Senin, 07 September 2015

Pendidik Vs Pengajar

,
Teringat ungkapan dari salah satu seorang pakar pendidikan Indonesia, beliau adalah Prof. Dr. Arief Rahman, M.Pd Guru Besar Pendidikan Psikologi Universitas Indonesia. Beliau pernah mengatakan dalam sebuah forum di Televisi Swasta, bahwa seorang "Guru" itu dibagi menjadi dua, yaitu Guru Pendidik dan Guru Pengajar. Guru Pendidik adalah guru yang benar -  benar mendidik secara benar dengan hati nurani, mendidik di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah, guru yang menginspirasi siswanya, dan pantas diberikan tanda pahlawan tanpa tanda jasa kepadanya. sedangkan definisi Guru Pengajar adalah  guru yang hanya mengajar berdasarkan tuntunan waktu yang ditetapkan oleh sekolah tersebut, guru yang pasif terhadap siswanya, guru masuk dan pulang mengajar tepat waktu.

Ungkapan beliau, Prof. Dr. Arif Rahman begitu sangat membekas dibenak saya pribadi. Sontak tertuju kepada kondisi Guru ataupun Dosen di Indonesia. Begitu naif kalau kita sampai tidak menerima ungkapan Prof. Dr. Arif Rahman tersebut. Dunia pendidikan di Indonesia memanglah seperti itu, saya analogikan kepada dosen ditempat saya berkuliah, saya nilai dosen ditempat saya kuliah, bertipe seorang "pengajar", bukan pendidik, akan tetapi hanya segelintir yang bertipe pendidik. Mereka datang dikampus tepat waktu, pukul 08.00 WIB, dan pulang dari kampus pukul 15.00 WIB tepat, terkadang sampai lebih, dan lebihnya (menit) bisa dihitung dari jari jemari. Saya pribadi sampai iri dengan kampus sebelah, mendengarkan cerita teman tentang dosennya di perguruan tinggi mereka berkuliah. Mereka bercerita, kalau dosen dan mahasiswa bak rekan, bak teman, bak anak-bapak, berani menemani mahasiswanya sampai gelap gulita datang.

Teringat cerita Bapak saya yang beberapa minggu lalu baru pulang dari negara tetangga, yaitu Malaysia. Beliau bercerita banyak tentang pendidikan di Malaysia. Kata beliau Indonesia kalah jauh dengan Malaysia, padahal dulu mereka berguru ke kita, tapi sekarang sudah terbalik, guru yang berguru ke muridnya. Ada apakah dengan pendidikan Indonesia?. Apakah karena seorang guru atau dosen kurang mendapat tempat dihati para petinggih bangsa?. Apakah petinggi lupa, kalau dia pernah dididik seorang guru atau dosen dulunya?. Sulit dimengerti, dibenak mereka seperti apa.

Bapak saya juga bercerita, tentang tingkat kesejeterahan seorang guru dan dosen disana. Perbandingan kesejateraan guru atau dosen di Malaysia dengan di Indonesia bagaikan langit dengan bumi. Di Malaysia, bisa dibilang guru atau dosen sangat sejaterah, bahkan bisa gaji seorang guru atau dosen lebih tinggi diantara pekerjaan lainnya di Negara Malaysia. Di Malaysia, kata Bapak saya, gaji guru SMA bisa sampai 40 - 50 juta perbulannya. di Indonesia berapakah?. Ah sudahlah, pikir sendiri. Dengan gaji segitu, mereka sampai bisa membeli sebidang tanah yang luas untuk dijadikan perkebunan sawit di negaranya. Sungguh benar -  benar sangat menghargai seorang pendidik di negaranya.



Terima Kasih

MH. Chifdzuddin
06 September 2015 Pukul 19.01 WIB
At Jl. Brawijaya 50 RT. 07 RW. 02 Gopa'an Sembunganyar Dukun Gresik

Rabu, 27 Mei 2015

Vitamin Laut dari Selatan Jawa Timur

,
Lupakan kenyamanan dunia modern saat memasuki kawasan hutan konservasi yang menyembunyikan sebuah laguna nan memukau di Jawa Timur. Kawasan terpencil yang tenar di kalangan wisatawan tersebut bernama Pulau Sempu. Lokasinya berada di pantai selatan Kabupaten Malang dan secara administratif masuk Desa Tambak Rejo Desa, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. 

Pulau Sempu berada tak jauh dari Pantai Sendang Biru. Dari Kota Malang, lokasinya  sekira 80 kilometer dan dari ibu kota Jawa Timur, yaitu Surabaya, jaraknya sekira 180 kilometer.  Pulau yang ditumbuhi pepohonan tropis seluas 877 hektar ini adalah cagar alam yang di kelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA) dan Departemen Kehutanan Indonesia. Secara resmi tempat ini diakui sebagai cagar budaya sejak 1928 pada masa pemerintahan Hindia Belanda (Sumber: Wikipedia.com).

Daya tarik utama pulau kecil nan cantik ini adalah Laguna Segara Anakan yang terletak sekira 2,5 km arah selatan pulau. Tersembunyi jauh di lingkar hutan tropis yang lebat, laguna seluas sekira 4 hektar tersebut merupakan tempat yang menawan. Pantai berpasir putih bertemu dengan birunya air yang tenang dan terpisah dari lautan lepas sebab dikelilingi batuan karang. Air di Laguna Segara Anakan ini tenang dan karenanya merupakan tempat yang sempurna untuk berenang. Dengan lokasinya yang terpencil dan jalur yang agak sulit diakses, Segara Anakan menyuguhkan suasana intim dan privat. 

Mulailah ekspedisi kami, planning berawal dari silaturahmi Hari Raya Idul Fitri di rumah teman kami Faridah, bertempat di Dalegan, Panceng, Gresik (500 meter dari Pantai Dalegan). Kami memilih pulau sempu menjadi Trip kami selanjutnya, sebelumnya adalah Pantai Unggapan, Bajol Mati, dan Goa Cina, Malang. Di pilihlah bulan september eksekusi TNCBT DOLEN PULAU SEMPU.

Bergabunglah 9 ekor di hari eksekusi, mereka adalah Chip (Saya), Billy, Edi, Falud, Hisyam, Yasin, Vivi, Joe, dan Hilya. Berawal Chip (Saya), Edi, Billy, Falud, Vivi, dan Joe, karena kami ber-enam tinggal di Kota Surabaya (Kuliah). Pukul 6 PM kami ber-enam janjian di depan kampus saya, yaitu di Alfamart UPN. Pukul 7.30 PM kami bergegas menuju Kota Malang, tak lupa kami panjatkan doa (di depan Kos saya) yang dipimpin langsung oleh Edi Rosyadi dan bergegaslah kami menuju kota Apel malang.

Perjalanan menuju Pantai Pasir Panjang, Pulau Sempu, Malang
Sahabat adalah keperluan jiwa yang mesti di penuhi. 
Dialah ladang hati yang kau taburi dengan kasih dan kau subur dengan penuh       Rasa terima kasih. Dan dia pulalah naugan dan pendiangmu karena kau             Menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa Memerlukan               Kedamaian. 
- Kahlil Gibran -


Tibalah kami di Kota Malang sekitar pukul 11 PM. Lalu menuju kediaman sementara (Kost) Hilyatul Afkar, karena ingin mengantarkan paketan atas nama Qurrotus Shofiyah (Vivi) dan Jachrotul Maknunah (Joe) untuk beristirahat hingga pagi datang. Dan kami pun, para cowok langsung menuju Kediaman sementara Muhammad Yasin (MAT) yang lumayan jauh dari kosannya Hilya tadi. Planning kami berangkat keesokan harinya (Sabtu/September), malam sabtunya kami beristirahat untuk mengumpulkan tenaga untuk keesokan harinya. Oiyah, ini Trip kami, sahabat SMA yang selalu kompak dalam hal Jalan-Jalan. Sebut saja Genk kami adalah TNCBT, yang singkatannya adalah The North Classes Beside Toilet. Kalian pasti tahukan artinya, dan pasti tahu filosofinya juga. 

Pukul 6 AM kami sepakat untuk berkumpul di depan kost kediaman Hilya, tak lupa kami buka janjian kami dengan sarapan bareng. Makanan khas mahasiswa menjadi Sarapan kami, lalapan (Malang)/Penyetan (Surabaya), seharusnya tidaklah baik kan makan sambel di pagi hari, tapi ya sudahlah, itu adanya.

Sekitar pukul 7.00 AM kami mulai perjalanan kami menuju Pantai Sendang Biru, Pantai ini menjadi pelabuhan kami sebelum menyebrang ke Pulau Sempu. Perjalanan kami terasa santai, karena memang kami anak Pantai, 6 jam kami baru sampai di Pantai Sendang Biru. Banyak kejadian-kejadian yang cukup asyik di perjalanan menuju Pantai Sendang Biru. Salah satunya adanya Pawai Budaya di tengah perjalanan kami, tak tahu tepatnya kami berada di daerah mana, yang pasti itulah kearifan lokal yang harus di lestarikan. Karena adanya pawai budaya tersebut, jalan utama pun ditutup, akhirnya kami mencari jalan tikus di daerah situ, sempat rombongan kami tersesat, tapi itu tak jadi masalah. Karena itu saya bisa menceritakan disini. Kisah asyik di kota Malang. 



Pantai Segoro Anakan, Pulau Sempu, Malang.
  Satu lidi mungkin sangat rapuh, namun jika dikumpulkan akan sangat               Sulit untuk dipatahkan.
- mh. chifdzuddin - 

Sekitar pukul 1 PM Sampailah kami di Pantai Sendang Biru di sambutlah kami oleh pantai nan indah, suara pengunjung yang menggelegar, dan petugas karcis yang cukup rama. masuklah kami dengan menunggangi 5 motor dan menuju tempat parkir selama kami nge-camp di Pulau Sempu. Ini total biaya kami dari pintu masuk sampai sewa perahu.

Karcis Pintu Masuk : 5 @motor x 5.000 = Rp. 25.000,-
Parkir 2 hari 1 Malam : 5 @motor x 10.000 = Rp. 50.000,-
Administrasi di kantor Konservasi : 9 @orang = Rp. 10.000,-
Tour Gate : 1 @orang = Rp. 100.000,-
Perahu : 1 @perahu = Rp. 100.000,- (Pulang-Pergi)

Nah, itulah rinciannya anggaran kami kemarin di Pulau Sempu. Sebelumnya di Malang kami bersembilan sudah iuran Rp. 50.000,-.

Setelah di memakirkan motor, bergegaslah kami ke kantor konsevasi di pantai Sendang Biru, melaporkan bahwa kami bersembilan akan berkunjung ke Pulau Sempu. Mendapat arahan dari kepala konservasi, apa-apa saja pantangan dan larangan selama berada di Pulau Sempu. Dan dari situ kami mendapatkan Tour gate dari pilihan kepala konservasi tersebut. Tour gate kami adalah Mas Sulthon, beliau adalah salah salah satu tour gate dari 3 tour gate yang bisa berbahasa inggris. Mas bercerita kalau dia sebelumnya menjadi tour gate wisata di Bali, kata dia (Mas Sulthon) bisa berbahasa inggris secara otodidak di lapangan. Hebatkan dia...




Pantai Pasir Panjang Pulau Sempu Malang
 nda mungkin bukan atlet olahraga, tapi anda tetap membutuhkan olahraga.          - mh. chifdzuddin - 

Sepakatlah harga mas sulthon kepada kami bersembelan, yaitu Rp. 100.000,- sekali antar. Mahsutnya biaya mengantar kami ke pulau sempu, sampai ke tujuan pantai yang kami inginkan. Kami memilih pantai yang sepi pengunjung, karena kami ingin merasakan kebersamaan di tengah kesunyian pantai. Kami memilih Pantai Pasir Panjang, lumayan jauh dari pantai incaran para pengunjung (pantai segoro anakan). Sebenarnya dari pihak kepala konsevasi, kami tidak di ijinkan untuk bermalam di pantai pasir panjang, ya karena disana tidak ada pengunjungnya, takutnya kalau terjadi apa-apa, kan repot juga jadinya. Maklumlah anak muda, egois dan rasa ingin tahunya yang tinggi. Sebenarnya kami memilih pantai yang sepi karena kami ingin menikmati pantai dengan nyaman, tanpa ada suara-suara manusia yang menggelegar, kami ingin menikmati kesunyian pantai, hanya ada ombak yang mengiringi kebersamaan kami. 

Sepakatlah Mas Sulthon mengantar kami ke pantai pasir panjang, dengan catatan kalau ada apa-apa jangan salahlah Mas Sulthon. Sebenarnya Mas Sulthon sendiri melarang kami, tapi kami tetap bersih kukuh ingin kesana. Jalan menuju pantai tersebut berliku-liku, naik turun bukit, dan di temani suara-suara burung-burung yang menikmati kebebasan di alam liar. Melihat ke kanan dan ke kiri benar - benar kita berada di tengah hutan yang lebat nan hijau. Sesekali canda tawa kami lantunkan di perjalanan, saling membully, saling menyemangati, saling membantu satu sama lain. Saya tak membayangkan kalau waktu itu hujan, pasti jalan setapak ini (Pulau sempu) sulit di lewati. Karena memang jalan setapak yang kami lewati adalah tanah liat yang mengeras. beruntunglah kami kesana pada waktu musim kemarau, jadi jarang hujan. 




Pantai Sendang Biru, Malang
Tersenyumlah dalam mengawali hari, karena itu menandakan bahwa kamu siap menghadapi hari dengan penuh semangat!
- mh. chifdzuddin - 

Perjalanan kami dari Teluk Semut menuju Pantai Pasir Panjang 3,5 jam, padahal seharusnya hanya bisa di tempu 1,5 jam. Maumlah, lebih banyak istirahatnya. Sampailah kami di pantai dua puteri, saya pikir itu sudah sampai di pantai pasir panjang, ternyata belum. Kami harus meliwati satu bukit lagi dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. kami harus menuruni bebatuhan besar dan curam sekali. Ibarat di kampus kayak main panjat tebing. Sungguh sangat-sangat meneggangkan dan mengasyikan. 

Sekitar pukul 5 PM sampailah kami di Pantai tujuan kami, Pantai Pasir Panjang. Pantai memanglah cantik dan memanjang. makanya nama pantainya adalah pantai pasir panjang. Ketika sampai, kami di sambut kawanan monyet yang cukup banyak, awalnya sih risih adanya monyet-monyet tersebut, tapi akhir kami senang karena monyet menjadi objek mainan kami. Haha. Sambil mendirikan tenda, karena bulan mulai menampakan diri di hadapan kami. 2 tenda yang kami bawah, kami dirikan untuk 9 anak. kebayang nggak, muat apa nggaknya 2 tenda untuk bersembilan anak?, yang pasti tak akan muat. Karena di sekitar tenda kita, banyak kawanan monyet, akhirnya kami membagi dua shift tidur di tendanya. 





Pantai Dua Putri, Pulau Sempu, Malang
Ku cinta hijaunya alammu. Ku cinta birunya lautmu. Ku cinta semua yang           Ada, padamu Indonesiaku. 
- Enda - 

Pukul 7 PM kami menyantap bekal kami yang kami bawah dari Malang. Menu itu terasa nikmat walaupun hanya berlauk tahu, tempe, dan mie. Di temani hembusan angin pantai, suara ombak yang berirama makanan itu terasa nikmat, di tambah dengan kebersamaan kami bersembilan. 8 sahabat yang WOW bagi saya pribadi. 

Setelah santap malam selesai lanjutlah kami membuat api unggun kecil-kecilan, dari kayu kering di tepi pantai yang kami cari pada waktu mendirikan tenda. Walaupun kecil, senggaknya bisa menghangatkan badan ini karena hembusan angin yang cukup memilukan. 

Terima Kasih
PULAU SEMPU, KABUPATEN MALANG

MH. Chifdzuddin
27 Mei 2015 Pukul 23.41 WIB
At STAI YPBWI SURABAYA - Jl. Rewwin No. 156, Wedoro, Waru, Sidoarjo






Kisah Klasik Yang Nyata di Bumi Kelud, Dibalik Musibah ada ke Asyikan yang ku dapatkan

,
Tak kusangka semester ini semakin mendekati finish, lepaslah saya dari jeratan semester 6 dan masuk ke semester 7 bulan september awal ini. Sudah banyak sekali kegiatan menuju puncak keberhasilan di perkuliahan Strata satu ini. Selepas dari dua pakaian Ormawa (Organisasi Mahasiswa), HMJTS (Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil) dan BLM-F (Badan Legislatif Mahasiswa - Fakultas). Langsunglah saya tancap gas untuk fokus menghadapi sisa - sisa perkuliahan ini. Walaupun perasaan ini bercampur aduk antara bangga dan kecewa. Bangganya adalah bisa menjadi bagian Organisasi di Kampus Bela Negara ini, banyak pengalaman di dalamnya. Dan kecewanya adalah nilai kuliah ku selama 2 semester harus merosot ke angka yang tak bisa saya terima. 

Sudah jangan banyak bicara masalah nilai, malulah saya pribadi. Di semester enam, waktu itu lagi musim-musimya KKN di kampus saya. Universitas lewat LPPM (Lembaga Penelitihan dan Pengabdian Masyarakat) menawarkan beberapa jenis model KKN, ada KKN Khusus, KKN Reguler, KKN SIMADA, dan yang terakhir yang di tawarkan adalah KKN Tematik Pasca Bencana. 

Sejujurnya saya sangat - sangat menginginkan KKN SIMADA, kenapa?. Karena KKN ini berada di Perbatasan Indonesia dan Malaysia, yaitu di Kabupatan Entikong, Pulau Kalimantan. Di samping itu saya juga tergiur tantangan yang mungkin tak akan pernah saya lupakan kalau saya jadi mengikuti KKN tersebut. Dari naik Kapal milik TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Laut) sampai menyusuri hutan - hutan alami Indonesia yang mungkin jarang terjamah oleh manusia luar Kalimantan. Dan itu cuma isapan jempol saja. Sebenarnya dosen perwalian saya juga melarang saya untuk KKN itu, karena memang KKN ini harus memakan perkuliahan saya selama 1 bulan lebih. Dan akhirnya saya memilih KKN TEMATIK Pasca Bencana. KKN ini di bentuk atas inisiatif Rektor kami, Bapak. Prof. Dr. Ir. H. Teguh Sudarto, MT yang terketuk hatinya untuk membantu masyarakat Kediri yang terkenah dampak yang cukup dahsyat letusan Gunung Kelud. Kampus kami lalu berkerjasama dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Di bulan awal Februari tahun 2013 saat dimana kami anak ingusan keluar dari kampus demi membantu sesama mahluk tuhan. Musibah yang cukup dahsyat yang menggemparkan seluruh jagad negara demokrasi ini. Pujian dari belahan dunia terhadap Indonesia, karena cakap dalam menanggulangi bencana meletusnya gunung kelud tersebut. Solidaritas sesama pun berdatangan dari penjuru ragam etnis maupun ras. Inilah negaraku yang terkenal ramah kepada siapapun, kami berkabung, tangan pun begitu erat memberi semangat kepada korban.

Pemuda seperti kami - kami ini hanya sebagaian dari orang baik di Indonesia maupun di muka bumi ini. Tak hanya kami, pemuda - pemuda lainnya juga datang dari penjuru negara demokrasi ini, khususnya para mahasiswa biasa di mata dosennya dan sangat gokil di mata Tuhannya.

Saat membantu menggantikan genteng yang rusak karena terkena batuan hasil muntahan Gn. Kelud.
3 minggu kami bercengkrama dibumi kelud, membantu terdampak dari segi apapun yang dibutuhkan disana. Yang terkagum-kagum adalah keberagaman didesa tersebut, masjid, pura, gereja dalam satu desa. Tak ada cek-cok antar agama yang seperti di sampit 14 tahun silam. desa ini begitu adem ayem, tentram, dan rukun. Banyak belajar ilmu kehidupan disana yang tidak diajarkan oleh guru dan dosen di tahun kebelakang. Rasa-rasanya ingin berlama-lama di kaki gunung kelud itu. Begitu bersahabat dengan alam, local people yang rama dan yang pasti yang natural-natural ada disana semua. Macet, polusi kendaraan, polusi suara kendaraan tak ada disana, hanya sapaan ngauman sapi dan kerbau, nyanyian angin dan air kemericik, hijauan alam yang sulit dijumpai dikota rantau. Di kaki gunung kelud yang diam yang menenangkan setenang-tenangnya. 

Local people yang bersahabat membuat kami betah. Rambutan, durian, kacang, jagung, sayur mayur, kelengkeng kami merasakan dengan tanpa harga. Padahal yang kami berikan hanya tenaga, untuk membantu beliau-beliau terdampak letusan Gn. Kelud. Bagi mereka  Rambutan, durian, kacang, jagung, sayur mayur, kelengkeng tidak artinya, tapi bagi kami ini adalah sebuah penghargaan yang setinggi-tingginya. Tak ayal kami para sang relawan bersemangat tanpa tanda lelah. Kalau boleh diingat, sehari team kami bisa menyelesaikan 4-6 rumah. Bayangkan kekompakan kami wahai pembaca. Tapi kami tak gentar dan tak lelah, ya itulah solidaritas sesama. Adakalahnya pas kita susah, pasti ada yang membantu kita, walaupun kita tidak tahu kapan momen itu terjadi. Yang pasti mudah-mudahan jangan seperti itu, kalau bisa kitalah yang membantu. Karena tangan diatas jauh lebih mulia daripada tangan dibawah.
Team relawan kala itu, ritual yang tak akan dilupakan setelah selesai memperbaiki rumah warga
 Tak hanya itu, disisi lain setelah melalui seharian berkutat dengan rumah warga yang diperbaiki. Sorenya berbagi keluh kesah dengan para anak-anak terdampak letusan. Kami menularkan ilmu kami di tanah rantau maupun di bangku sekolah. Kami harus berusaha, memberikan kecerian kepada anak-anak kaki Gn. Kelud, sehingga tak ada lagi yang namanya rasa trauma yang menderah di diri masing-masing anak kaki Gn. Kelud. Kami bernyayi, bercanda, bermain bersama di rumah pinjaman dari salah satu warga terdampak. Kami diberikan 3 rumah yang secara gratis diberikan kekami untuk sementara waktu. Begitu baiknya local people, itu mencerminkan negara kita tercinta. 

Inilah anak-anak hebat itu
Tak terasa jemputan kendaraan besi panjang pun datang, terasa aneh kala datangnya barang ciptaan manusia itu datang. Suaranya yang tak bersahabat yang merusak kesunyian alam ini. haru tangis menyertai para anak-anak hebat itu, tak ku sangka, padahal hanya beberapa hari saja, mereka begitu mencintai kami ini. Yang hanya pemuda lugu yang kuat di tanah rantau, dan rapuh ditanah kelud. Begitu banyak kisah asyik, klasik yang kami dapatkan. Tak hanya itu, pelajaran hidup yang begitu wow bagi saya pribadi. Terima Kasih Kepung, Terima Kasih Kediri dan Terima Kasih atas letusanya Gunung Kelud, karena mu banyak hikmah yang saya dapatkan ditanahmu. Musibah adalah hikmah manis didalamnya.


Terima Kasih
Kisah Klasik Yang Nyata di Bumi Kelud, Dibalik Musibah ada ke Asyikan yang ku dapatkan. Thanks a lot.

MH. Chifdzuddin
27 Mei 2015 Pukul 23.09 WIB
At STAI YPBWI SURABAYA - Jl. Rewwin No. 156, Wedoro, Waru, Sidoarjo

Jumat, 30 Mei 2014

Latian Dasar Kepemimpinan Siswa

,
      Kalau mengingat masa - masa SMA itu memang kagak bisa terlupakan. Seperti kata orang - orang, masa SMA itu masa - masa yang paling indah. Ya nggak kawan?. Saya bakal berbagi pengalaman pengalaman waktu SMA saya yang Insya Allah cukup kocak dan penuh kenangan. Sebelum masuk SMA, saya bersekolah di MTs YKUI Maskumambang (Pondok Pesantren) di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Setelah lulus dari situ saya meminta orang tua saya agar saya bisa bersekolah di SMA Negeri. Orang tua saya mengabulkan permintaan saya, lalu menyekolahkan saya SMA 1 Sidayu, Gresik. Tepatnya di Kecamatan Sidayu, Gresik. Penuh perjuangan keras saya untuk masuk ke SMA. Kenapa saya ngomong seperti itu, karena saya pada waktu ujian masuk SMA, saya sudah berjuang dengan menggunakan enggrang kesana, maklum kaki saya patah habis kecelakaan di Lapangan sepak bola sekitar pada H - 1 bulan Ujian Nasional SMP/MTs. Tap saya nggak akan bercerita tentang itu, yang saya ceritakan adalah masa - masa SMA saya yang penuh dengan kenangan bagi saya. 

Depan Kelas XII IPA 1
      Pengumuman test masuk SMA. saya sangat tercengangkan di mata saya karena saya bisa di terima  di salah satu SMA Favorit di Kabupaten Gresik, di tambah saya juga di terima di Kelas RSBI nya (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Saya cukup bangga karena saya bisa mendepak ribuan siswa yang ikut test di sekolah itu. Yang saya pikirkan kenapa saya bisa masuk ke RSBI itu, padahal bahasa inggris saya nggak sebegitu pintar. Rumor - rumornya dulu, kalau sekolahnya berbahasa inggris dan buku - buku pelajarannya juga berbahasa inggris. Cukup mengerihkan bagi seorang seperti saya yang minim sekali pendidikan tentang bahasa inggris. Dari hal itu semua, mau nggak mau saya harus menjalaninya. Saya anggap woles saja secara fisik saya, tapi pikiran saya pusing memikirkannya. 

      Tak beberapa hari kemudian, saya masih ingat hari itu, hari senin dengan di antar sepupu saya untuk pergi ke sekolah baru saya. Untuk mengambil kain seragam sekolah dan buku pelajaran yang akan di ajarkan di sekolah nantinya. Cukup senang ketika memegang kain yang di berikan ke saya, di kasihkan langsung oleh Bapak yang mengurusi Tata Usaha (Saya Lupa namanya siapa), saya di kaih pengarahan masalah seragam yang akan di jahit sendiri. Kain ini di jahit berdasarkan gambar yang di berikan pula oleh bapaknya. Ribet banget ya?, memang. Nggak kayak di sekolah sebelumnya, beli langsung jadi saja. Maklum negeri sama swasta memang beda. katanya seperti itu. Setelah mengambil Kain Seragam, beranjak pergi ke Ruang kelas yang saya tempati. Ternyata saya dapat Ruang nomor satu yaitu Ruang kelas X-1. Jujur ruang kelasnya sangat strategis sekali, deket sama tempat parkir sepeda motor, Laboratorium FISIKA, KIMIA, BIOLOGI, dan yang pasti deket sama toilet. hehe. Di situ saya dan teman - teman baruku di kasih pengarahan masalah Pembelajaran dan Buku. Dengan di pimpin oleh Wali kelas saya yang baru, Beliau adalah guru Biologi, namanya Bu Yuni Rakhmawati, S.Pd, M.Pd. Wali kelas pertama saya adalah seorang cewek, karena sebelumnya adalah di MI dan MTs adalah cowok wali kelas saya, maklum Pondok Pesantren.
Tepi Bengawan Solo
Teman saya yang di MTs,yang di terimah di SMA 1 Sidayu ada 4, Saya, Lailatul Isti'anah, Muh. Rasyid Ridho (Teman sekelas di Mts), dan Kholid Rafsanjani (Teman satu kelas juga di MTs). Saya cukup bersyukurlah bisa melihat wajah-wajah mereka kembali di sekolah yang baru ini. Awalnya saya pikir hanya saya saja yang sekolah disini. Setelah dapat pengarahan, langsunglah kita sekelas di bagi buku - buku yang tebel nya minta ampun (Lebay Dikit), Buku pelajaran Biologi, Matematika, Fisika dan Kimia. Ke empat buku itu berbahasa inggris semua, tapi ada terjemahannya kok ke bahasa Indonesia (Kecil-kecil tulisannya). Di pengarahan itu, hati saya langsung Makjleb mendengar kalau, ke empat mata pelajaran inti ini Ujiannya dengan berbahasa Inggris. Ngenes banget, pikir saya. Dari situ memicuh semangat saya untuk belajar lebih giat. Soalnya teman-teman saya kebanyakan adalah lulusan negeri, saya sendiri agak minder awalnya, karena lulusan pondok pesantren. Benar - benar berbeda aturannya daripada di Pondok. Yang saya salut di sekolah ini adalah kedisiplinannya yang tinggi, terkenal dengan guru-guru yang di bilang Killer (Katanya seh).
Lapangan Basket

    Langsung saja, hari masuk Efektif pun tiba. Hari pertama masuk Upacara adalah hari yang paling mengesankan buat saya. Saya melihat dari sudut gerbang sana, banyak siswa-siswi (Senior) yang terlambat dan tidak di perbolehkan masuk untuk mengikuti Upacara. Benar - benar sangat disiplin sekolahan ini. Ketika upacara saya melakukan kesalahan besar, saya tepok - tepok tangan sendiri ketika ada senior yang mendapat penghargaan karena prestasinya. Saya lupa prestasinya apa waktu itu. Gara - gara tepok tangan itu, saya mendapat Bogeman dan tendangan dari seorang guru yang saya sendiri tidak kenal siapa guru itu. Sebenarnya bukan saya saja yang mendapatkannya, saya, dan teman saya Namanya Saifu dan Aank. kita bertiga yang menjadi sasaran Bogeman dari guru tersebut. Apesnya adalah Si saifu dan Aank waktu itu mengeles, sehingga tidak kenak bogeman itu. Hanya saya sendiri yang kena bogeman dan tendangan di rahang sisi kanan saya (kepala). Itu benar-benar kenangan dan gebrakan kedisplinan yang saya rasakan ketika awal masuk sekolah. Sampai sekarang benar-benar melekat di pikiran saya. Setelah Upacara selesai, kita bertiga (Saya, Aank, dan Saifu) langsung mencari guru itu di ruang kantornya. Dan kami meminta maaf atas kesalahan kami, hebatnya lagi beliau yang memukul saya malah balik meminta maaf kepada kita atas tindakannya yang keterlaluan sampai seperti itu. Saya masih ingat sekali kalau dia sambil menangis menasehati kita bertiga. Dan berjanji kalau tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu. Nama beliau adalah Imam Arifin, S.Ag. Beliau adalah guru Agama Islam di Sekolahan saya. Beliau memang terkenal ke Killerannya. Wataknya keras, tapi bagi saya pribadi dia adalah guru yang baik dan pantas menjadi panutan. Sampai saat ini, saya masih bersilaturahmi dengan beliau, lewat facebook, dan kalau hari Raya saya dan teman - teman selalu bersilaturahmi ke rumahnya. Tapi sayang, kata beliau, beliau sudah di tidak mengajar di SMA Saya dulu. Sekarang beliau di tempatkan di Dinas Pendidikan Kota Gresik. Itu adalah hal paling mengesankan di awal pertama masuk menjadi seorang siswa SMA. 
Wajah masa SMA

      Awal MOS (Masa Orientasi Siswa ) dan LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa), disini ada hal yang mengesankan lagi. Pas MOS kenangannya nggak sebegitu terkesan sih. Tapi Pas LDKSnya yang berkesan. Pas LDKS itu kayak seperti Ospek pas awal jadi MABA. Jadi, sabtu sama minggu kita menginap di sekolahan. Tidurnya di Aula yang cukup besar. di LDKS itu, kita siswa/siswi baru mendapat pengarahan masalah seluk beluk di SMA maupun Organisasi di dalamnya. Yang mengesankan sebenarnya banyak, ada outbond di malam harinya, yang kata teman - teman itu harus melewati rintangan - rintangan yang di buat kakak senior. Dan perlihatkan hantu - hantuan yang di progreskan untuk menakuti peserta LDKS itu. Tapi saya tidak mengikutinya, karena kaki saya belum pulih betul. Saya ijin ke senior langsung lewat sepupu saya yang juga menjadi panitia LDKS itu. Hehe, enak kan (Nepotisme dikit). Yang benar - benar teringat di pikiran saya adalah, di malam LDKS saya hampir bertengkar dengan Siswa baru juga. Saya sampai mau di keroyok dan di hantam sama batu bata. Waktu itu kejadiannya di depan Mushola Sekolah. Nggak tahu masalahnya apa, kok tiba - tiba mau ngeroyok saya. Sampai sekarang saya nggak tahu masalahnya apa, tapi saya yakin pernah membuat mereka marah karena tindakanku. Tapi jujur saya nggak tahu apa yang saya lakukan sehingga mereka seperti. Akhirnya saya di lerai seorang teman saya sekelas, Aank namanya dan satu teman lagi, yang saya sendiri belum kenal dia siapa waktu itu, namanya Gibil. Berkat mereka berdua saya lepas dari pengeroyokan massa. Mereka mengancap bla - bla setelah di lerai itu, tapi saya tak menghiraukan. hehe. Yang saya takutkan hanya satu, kaki saya yang belum pulih betul. Setelah berjalannya waktu, kita pun berteman, mereka yang mau ngeroyok saya namanya adalah Agung, Shaiful Munir, dan Tepos (Nama Julukan, Nama Aslinya Ferdinata). Yang Agung sekarang sudah menikah, dan di karuniai 1 anak, Yang Munir nggak kuliah, dia meneruskan Usahanya orang tuanya. Dan yang Tepos ini dia masih sering berhubungan dengan saya, sesekali ngopi bareng di Surabaya. Dia Kuliah di PPNS (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya), Mengambil jurusan Otomasi Perkapalan. Itulah yang mengesankan di antara yang mengesankan di awal jadi Siswa Baru di Sekolah saya yang baru. Benar-benar teringat sampai kapanpun. Ujung-ujungnya kita berteman (Musuh menjadi Saudara).






MH. Chifdzuddin
28 Mei 2014 Pukul 18.43 WIB
At Home. Jln. Brawijaya No. 51 RT 07 / RW 02 Gopa'an Sembunganyar Dukun Gresik


Minggu, 18 Mei 2014

Banggakan Orang Tua Mu

,
Orang tua bagi saya adalah Inspirator sejati saya. Nggak ada yang bisa nandingin di hidup saya pribadi. Mungkin kalian berfikir sama seperti saya. Coba kalian bayangkan pengorbanan - pengorbanan orang tua kepada kita, nggak bisa di hitung dengan jari jemari bukan?. Kalau di suruh membayangkan saya rasanya pengen menangis dan air mata berkaca - kaca. Beliau berdua adalah Superhero di kala saya kecil, walaupun saya tidak menyadari waktu itu. Saya menyadiri ketika sudah di tonggak kedewasaan seperti ini. Orang tua adalah sosok yang tidak pernah merasa mengeluh di hadapan kita, beliau mengusahakan dengan cara yang tak biasa untuk bisa menyenangkan hati kita. Coba kalian fikir, apa kalian pernah melihat orang tua mengeluh di hadapan kita. Jujur, saya belum pernah melihat sosok beliau mengeluh di hadapan saya.


Orang yang terdekat dengan saya ketika di luar rumah adalah Bapak saya, dan di dalam rumah adalah Ibu saya. Beliau berdua bagi saya adalah Motivator hebat, kalau di luar rumah Bapaklah motivator saya. Dan kalau saya di rumah Ibulah Motivator saya. Banyak nasehat - nasehat yang terlontar dari mulutnya yang

Sosok Bapak bagi saya.
Setiap saya bersamanya Nasehat - nasehat yang mengingatkan saya selalu terlontar. Dan itu saya cermati betul perkataannya. Yang paling sering Bapak nasehatkan kepada saya adalah masalah Ibadah sholat 5 waktu. Di setiap saya dengan beliau, selalu di tanya masalah sholat, tapi kenapa saya mengabaikan itu semua?. Saya ingat betul kata beliau yang saya artikan ke bahasa Indonesia "Jangan meninggalkan sholat, rugi besar kamu kalau meninggalkan sholat, Murid Bapak yang mendengarkan nasehat Bapak masalah sholat, itu sukses hidupnya". Apa yang di katakan itu memang benar sekali dan terjadi. Setiap Hari Raya Idul Fitri murid yang di katakan itu selalu ke rumah buat silahturahmi ke Bapak saya. Dan kesuksesannya itu di ceritakan ke Bapak saya.  Tapi kenapa dengan itu semua saya belum bisa terketuk pintu hati saya. Saya terkadang masih mengabaikan waktu sholat. Sengaja saya molor - molorkan karena kesibukan duniawi. Padahal itu jelas - jelas terbukti kebenaranya. Saya juga masih sangat ingat perkataan beliau yang menjanjikan saya, kalau sebelum kuliah saya sudah dapat perkerjaan. Kata beliau seperti ini "Sholat yang tekun dan sholat malam jangan tinggalkan, Bapak yakin kalau kamu mengerjakan itu semua kamu akan mendapat pekerjaan itu mudah, bahkan sebelum lulus kuliah kamu sudah keterima kerja. Kalau belum kerja sebelum lulus potong jari jemari bapak", Sampai seperti itu beliau berkata kepada saya dengan lantangnya. Saya merinding dan berkaca-kaca mendengarkan nasehat Bapak yang seperti itu kepada saya. Lagi - lagi saya yang benar - benar bandel, banyak sekali nasehat - nasehat Beliau yang di sampaikan kepada saya. Dan itu beberapa perkataannya yang sangat-sangat melekat di hati saya. Saya ingin membuktikan itu semua kepada Bapak saya. Jujur saja, saya adalah anak yang paling terdekat dengan Bapak saya. Kalau dia kerepotan masalah pekerjaannya, dia selalu menelepon saya dan menyuruh ke tempat beliau berada untuk bisa membantu menyelesaikan pekerjaannya. Dan tak itu juga, kalau ada acara-acaranya yang tempatnya di luar kota beliau selalu mengajak saya untuk menemaninya.

Jujur, di kontak handphone saya, nomor handphonenya Bapak saya, saya kasih nama "My Hero". Nggak tahu kenapa, secara tak sadar saya kasih nama tersebut. Beliau bagi saya adalah benar-benar pahlawan di kehidupan saya. Banyak hal yang patut di tiru dari beliau, semangatnya dalam menafkahi keluarganya dengan kerja keras. Terkadang saya merasa berdosa besar, apabila menolak perintahnya. Pernah waktu itu di rumah, saya di suruh menggantikan jaga di kantornya di Gresik. Saya agak berat soalnya kalau menggantikan jaga beliau disana. Banyak tekanan dari teman-teman kerjanya. Omongan-omongan yang tak patut di ucapkan dan sikap yang tak patut di pertunjukan kepada saya. Saya merasa tekanan itu terlalu merendahkan saya pribadi. Alasan kenapa saya menggantikan Bapak saya ada beberapa alasan yang sangat-sangat bisa di terima. Diantaranya sakit diabetesnya Kambuh (Naik-Turun kadar gulanya), Keperluan keluarga, misalnya hajadan keluarga, dan benturan jadwal dengan pekerjaannya yang lain. Dengan terpaksa dan raut wajah yang kecewa saya tampakan di hadapan Bapak saya.

Saya merasa bersalah dan berdosa besar dengan menampilkan raut wajah yang sedemikian rupah, di perjalanan saya selalu berfikir dan merasa bersalah. Dengan modal "Perjuangan My Hero", saya hilangkan semua belenggu yang saya takutkan, tekanan dari teman kerja bapak saya. Tekanan itu saya jadikan nilai belajar saya di dalam dunia kerja. Saya berkeyakinan kalau di dunia kerja saya nanti, tekanannya jauh berat dari itu semua.




MH. Chifdzuddin
18 Mei 2014 Pukul 14.16 WIB
Kost Perum IKIP A 165 & Kantin FTSP UPN "Veteran" Jawa Timur, Wanet Yofie Net depan Kampus UPN "Veteran" Jawa Timur. .

Kamis, 23 Januari 2014

Hadiah Terindah di Bumi Bromo.

,
Waktu itu kita nongkrong di tempat biasa, ya dimana lagi kalau bukan di Angkringan depan kampus kita. Saya, Lek Baim, Said, Addin, dan Muthia itulah kami pelaku sejarah yang mencetuskan untuk liburan ke Gn. Bromo. Dari pembicaraan itu yang paling antusias adalah saya dan  Said, kenapa demikian? saya yakin kalian pasti tahu jawabanya. Iya, itu jawabannya. Saya dan Said belum pernah ke Gn. Bromo. Said sendiri sebagai anak rantau dari Ambon, pulau Maluku sana. Sebenarnya yang mengusulkan buat kesana adalah saya, dan Said pun sangat mendukung saya. Saya ngiri dengan teman-teman kuliah maupun SMA yang memajang foto - fotonya di Bromo. Baik di akun facebook maupun twitternya, yang terpampang jelas dengan pose alay dengan background Gn. Bromo (Ngomong dalam hati: Shit). Ada kesempatan datang, saya langsung sergap, makanya saya mengusulkan untuk pergi ke Bromo. Awalnya ada dua kunjungan, pertama ke Gn. Bromo dan selanjutnya ke Air terjun Madakaripura. Tapi ke Air Terjun Mardakaripuranya nggak jadi. Pengen tahu alasannya, baca dulu dong sampai selesai. Semangat.

15 November waktu yang kita pilih buat pergi ke Gn. Bromo. Dari situ kita promo ke teman-teman yang lain. Lewat akun twitter saya, ternyata teman-teman kuliah saya menanggapinya dengan antusias. Di tengah perjalanan menuju tanggal 15 November itu, teman kami Muthia mengundurkan diri, tahu kenapa? karena tidak di ijinkan oleh Bunda tercintanya. Dan yang paling kasian adalah mas Addin. kalian pasti tahu alasannya. Dan yang paling bahagia adalah saya sendiri, karena bisa mengajak someone ke Bromo. hehe Padahal dia rabu malamnya baru pulang dari Semarang, dari acara Beswan Djarumnya. Tak paksa sedikitlah buat ikut, walaupun saya tahu dia masih ngerasa kecapekan. Dan akhirnya dia mau. Bromo broo..!! Masak moment baik ini nggak bisa di jalani berdua (Cowok yang jahat banget kan saya). Pikir saya.  H-1 pemberangkatan total yang ikut ada 12 anak. Mereka adalah Saya mhc, Nita (Pacar saya), Addin, Bang Baim, Said, Alista, Ichsan, Pipit, Angga, Fajar, temannya Fajar (Lupa namanya "Cewek"), dan temannya Addin dari Komunitas Vespa.
Potret Kami. Di belakangnya tuh Kawa Bromo. 

Potret kami: Nyengir

Jum'at malam kami pilih buat berangkat munuju Gn. Bromo. Saya mengirimi pesan ke teman-teman, kalau kita akan ngumpul dulu untuk mengisi amunisi di tempat biasa (Angkringan depan kampus). Jam 8 malam tepat harus berada di angkringan. Setelah jam 8 tepat yang berkumpul hanya Saya, Bang Baim, Nita dan Said. Inilah calon generasi penerus bangsa, membiasakan jam karet. Setelah jam 9 tepat barulah komplit formasi kita, ke sebelas anak berkumpul. Sendah gurau kita omongkan (Banyak omongan-omongan nggak jelas sih. hehe). Jam 9.30 tepat kita berangkat dari pijakan kita, yaitu Angkringan. Tak lupa kami panjatkan doa bersama - sama agar di perjalanan yang jauh ini tidak mendapat kendala yang berarti, berdoalah kita dengan di pimpin oleh mas Said. Iring-iringan motor kita dengan start paling depan adalah Bang Baim. Tak lupa juga teman - teman saya Intruksikan buat mengendarainya tidak cepat-cepat, karena waktu kita di jalan masih panjang. Saya sendiri berada tengah, dan yang paling belakang adalah Addin. 

Sampailah kita di kota Delta Mania (Julukan Suporter team sepak bola kebanggaan kota Sidoarjo). di situ hujan mulai rintik-rintik turun, tepatnya di Alun-alun Sidoarjo. Kita pun terus melaju terus tanpa memikirkan hujan kecil mungil itu. Setelah 2 jam berjalanan sampailah kita di Kota pasuruan, Hujan berhenti ketika kamu datang. Kita hanya di sugui jalanan yang licin dan lalu lalang Truk-truk besar. Jujur kalau benar-benar tidak waspada Taruanya adalah.... Ah.. sudahlah. Hujan pun akhirnya mengguyur kita di Kota Pasuruan, tepatnya saya lupa dimana. Pokoknya rombangan kami berhenti di depan Toko Ritel. Tau nggak toko ritel itu apa?. Iya itu jawabannya. Alfamart jawabanya. di situ kita berteduh kurang lebih selama 3 Jam. Alfamart pun kami grebek, dengan membeli bermacam-macam minuman dan makanan. Saya melonngoh sejenak ketika di sebelah Alfamart ada toko sejenis, dialah Indomaret. Berhubung tempat parkir sepeda lebih dekat dengan Alfamart, kita lebih memilihnya. Yang saya salut adalah keduanya walaupun bersaing, tapi bersaing secara sehat. Dimana ada Alfamart pasti ada Indomaret. Rasa - rasanya mereka adalah saudara yang di tukar (Kayak Sinetron). 

Setelah 3 jam lebih kita menunggu, hujan pun mau berhenti. Kita pun memutuskan untuk memaksakan berangkat. Pikir teman-teman "Takut telat sama yang namanya Sunrise di Bromo". Akhirnya pun kita sematkan Jas hujan yang kita bawah masing - masing. Tak lupa juga kita lepaskan sepatu yang kit pakai. Takutnya basah di perjalanan. Iring - iringan motor kami pun, lagi - lagi di temani Truk - truk besar yang tak tahu isinya itu apa. Maklum ini kan jalanan Pantura menuju Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Setelah beberapa jam, sampailah kita di perbatasan Pasuruan dan Probolinggo. Tepatnya di Kecamatan Nguling. Di Kecamatan Nguling kami sudah di tunggu temannya Addin. Teman Komunitas Vespanya yang dia ikuti. Ketika sampai di rumahnya kita di sambut bak seorang raja. Benar - benar sangat di Istimewakan. Serasa teman lama yang sudah lama tak berjumpa. Padahal baru kenal waktu itu. Kita di sugui semoci teh dan kopi hangat yang benar-benar nikmat. Saya lebih memilih kopinya, biar nggak ngantuk di perjalanan. Maklum Jarum jam sudah mengarah ke nomor dua. Setelah beberapa menit pun kita berangkat dari rumah temannya Addin. Kalau waktunya sudah nggak mepet, kita sangat antusias di ajak buat mengobrol berjam-jam. Bener-bener bersahabat, walaupun kenal hanya beberapa menit. Kita pun berangkat dan masuklah kita di Kabupaten Probolinggo. beberapa menit kemudian, sampailah kita di pertigaan, kalau lurus itu mengarah ke Jember, Banyuwangi, dan Bali dan kami memilih belok kanan karena menuju ke Gn Bromo yang menjadi tujuan utama kita.

Perjalanan yang begitu menyeramkan, gelap gulita, yang saya lihat hanya lampu kecil rumah warga dari jauh kita mengendarai. kanan kiri pun tidak sebegitu jelas terlihat. Tapi inilah perjalanan yang kita pilih untuk samapai di Gn. Bromo. Hawa dingin mulai sangat - sangat terasa di sekujur badan saya, terutama kaki dan tangan. Benar - benar hawa Gn. Bromo menyambut kedatangan kita berdua belas ini. Syukur Alhamsulillah saya panjatkan kepada sang pecipta dan berdoa pula agar tidak terjadi apa - apa di perjalanan menuju Gn. Bromo. jalanan yang licin, berkelok - kelok dan naik turun. Benar - benar perjalan yang tak terlupakan yang kita lewati itu. Sampailah kita di Pertigaan Air Terjun Madakaripura, kita pun lurus saja dengan jalan yang sangat - sangat menanjak. Sampai - sampai motor teman saya nggak kuat untuk melaluinya. Saya dan fajar lebih dulu berada di depan, karena motor kita tidak ada kendala sedikitpun. Maklum motor saya dan fajar motor cowok, makanya kuat di tanjakan. Tak lama kemudian sampailah kita di Pom Bensin terakhir di area Gn. Bromo. Kita lepas jas hujan yang kita pakai, dan di gantilah dengan sepatu. Hawa yang begitu dingin membuat saya sering bolak - balik kamar mandi, benar-benar mengalahkan hawa di Malang dan Puncak Gn. Penggungan.

Waktu menunjukan pukul 3 pagi, mata sembab, ngantuk, capek berpacu dengan semangat kita yang ingin menikmati Sunrise di Bromo. Sehabis, Istirahat, Ke kamar mandi, ngisi bensin kita pun langsung Go ke Gn. Bromo. Dengan di temani Jepp yang begitu semangat menaiki jalanan yang licin itu. Lalu lalang Jepp sangat membuat kita kerepotan, nggak mengalah sama kita yang hanya mengendarai roda dua. Jujur ini perjalanan yang tak terlupakan, mengandarai motor dengan tanjakan yang super duper curam. Terkadang kanan itu Jurang, dan terkadang kiri pun jurang. Cukup menakutkan untuk pengendara yang sedang capek, dan ngantuk ini. Lagi-lagi taruhannya adalah.... Ah.. sudahlah. Tapi saya yakin, semua akan terbayarkan setelah kita sampai disana (Gn. Bromo). Pikirku ketika Saya, Ichsan dan fajar sampai di pintu masuk Wisata Gn. Bromo "Saya yang mengendarai motor cowok saja kerepotan untuk mengendalikan, bagaimana teman-teman saya yang memakai motor matic dan bebek", Kasian banget mereka. Saya, Ichsan dan Fajar pun menunggu mereka yang masih pilu dengan motor. Menunggu kabar dan cerita dari mereka bagaimana keadaannya tadi. Ternyata dugaan ku benar Bang Baim, Angga, dan Addin sempat Menuntun sepedanya yang nggak kuat lagi mengarungi jalanan menanjak. Untung mereka nggak apa-apa, cuma nafas yang kencang dari hidungnya. Sialnya lagi harga tiketnya naik, kata bang baim. Saya, Ichsan, dan Fajar yang nggak tahu harga tiket awalnya, mengiyakan saja. tanpa negosiasi - negosiasi kecil yang di lakukan Bang Baim. Pikirku Ya sudahlah....

Bumi Bromo

Kita pun istirahat sebentar menunggu redahnya rasa capek teman-teman yang habis menuntun sepeda tadi. Tapi hawa semakin dingin, sampai-sampai terasa di tulang. Benar - benar kayak masuk ke dalam kulkas. Kita pun melanjutkan perjalanan, semakin kita berhenti beraktifitas, semakin kedinginan badan kita. Makanya kita melanjutkan perjalanan. Lagi kita di suguhi pemandangan tebing yang begitu memukau mata dan juga jalanan yang begitu menanjak. Pikir saya sedikit lagi nyampek di Gn. Bromo, ehh ternyata masih panjang perjalanannya. Setelah setengah jam perjalanan, sampailah kita di hamparan pasir yang luas, gelap, dan kabut yang sangat mengganggu penglihatan kita. Karena kabut yang tebal sekal, jarak pandang kita hanya 1 - 4 meter saja. Hanya lampu motor yang dapat meneranginya. Kita mengikuti arah jeep di belakangnya, karena kita yakin itu jalan yang benar. Tibahlah kita di suatu tempat, di depan tebing yang menjulang tinggi, yang saya herankan, ada orang berjualan di situ. Wah. mumpung kabanyakan teman-teman laper, mampirlah kita. Kata bapak yang berjualan, ternyata di atas tebing sanalah tempat kita meihat sunrise yang paling bagus di Gn. Bromo. Karena melihat tebingnya yang begitu menanjak, kitapun mengurungkan niat buat pergi ke atas tebing sana. Karena kita tahu, motor sebagian tema-teman kita nggak kuat dengan jalanan yang begitu menanjak itu. Kita putuskan untuk menetap di tempat jualan, sembari menunggu datangnya fajar tiba (Matahari terbit). Teh dan mie gelas yang kita pilih buat menghangatkan badan dan mengurangi rasa lapar. Ada teman kita yang istirahat dan tidur sejenak, mungkin dia merasakan kelelahan yang sangat hebat, Maklum perjalanan jauh dan tanpa tidur sama sekali..

Matahari pun terbit, kita pun bergegas bangkit dari keterpurukan kita dari kedinginann yang menderah ini. Tahu nggak apa yang kita lakukan setelah mulai terang bumi ini?, Iya itu jawabannya. Kita pun langsung mengabadikan moment kita di Gn. Bromo ini. Bagi saya ini adalah kado terindah saya di Ulang tahun saya yang ke 21 tahun bisa berdiri di bumi Bromo (Saya sudah tua banget ya?), sembari berbicara di dalam hati. Saya berucap banyak terima kasih kepada Allah SWT, tuhan saya, dan teman-teman saya yang bersama saya di bumi Bromo ini, dan tak lupa juga terima kasih banyak buat si dia yang mau menyempatkan waktunya buat menemani saya pergi ke Bromo.

Kita pun sepakat untuk pergi ke kawa Bromo, sekitar pukul 7 pagi kabut mulai hilang dan keagungan sang pencipta pun terlihat. Dengan semangat kita menaiki sepeda motor dan bergegas ke Kawa Bromo. Ternyata rame juga pengunjungnya, maklum musim liburan waktu itu. Bukan liburan kuliah, tapi liburan sekolah. Jeep terlihat berjejer - jejer di depan kuil (tempat peribadatan Masyarakat Bromo). Terlihat dari bawa pula, saya menongok ke tangga kawa yang jauh disana, orang-orang yang antri menaiki seperti semut yang berurutan jalannya. Tidak hanya wisatawan Domestik, Wisatawan mancanegara pun sangatlah banyak. Tak hanya itu, Ada juga Ojek kuda (Saya menyebutnya seperti itu), mereka mengangkut turis - turis mancanegara dan Wisatawan domestik antara 30 - 100 ribu (Naik dan Turun). Pas saya tanya ke bapak yang menyediakan jasa Ojek kuda, kalau wisata Mancanegara di tarif 70 ribu - 100 ribu dan wisata domestik di bandrol di bawah 70 ribu. Tergantung cara menawarnya juga, Makanya pintar - pintar menawar kalau naik Ojek Kuda. Kemarin saya di tawari 40 ribu, tapi saya nggak mau. Mending jalan kaki sehat. haha. Ojek Kuda hanya mengantar sampai tangga kawa, selebihnya kalian Usaha ke sana sendiri. hehe. Melihat kanan kiri banyak orang jualan jajan - jajan, oleh - oleh khas bromo (Koas), Bunga Abadi, dan lain sebagainya. Ketika di tangga saya benar - benar merasakan seperti bebek yang ngantri buat masuk kandangnya (Rumah Tinggalnya), benar-benar harus jalan berurutan secara pelan-pelan. Kalau saya hitung setiap naik satu anak tangga itu bisa 3 - 7 detikan, coba kalian bayangkan ramenya kayak apa. Tapi menurut saya itu, Hikmahnya ada. Kenapa saya ngomong seperti itu?, ya karena bisa mengurangi rasa capek, dari pada buru-buru, pasti nafas ini bengek. (Kembang kempis ini nafas) hahaha. Pokoknya Amazing bangetlah. So, kalian pembaca harus coba.

Kurang lebih setengah jam perjalanan dari bawah tangga kawa sampai ke atas kawa. Kanan kiri rame banget manusia, semuanya berjubel kayak mau ngantri ngambil sembako. Yang saya rasakan adalah Senang dan takut, kenapa? Senang karena melihat ke indahan bromo dan puncak kawa dan takut karena jujur saya takut ketinggihan, lebay pokoknya kalau berada di ketinggihan. Pengen foto di background kawa saja sampai antri dulu, bayangkan ramenya kayak apa. Oiyah saya juga berfikir aneh - aneh yang negatif, kalau kawa ini bakal longsor. hehe. kenapa coba?, dengan banyaknya orang di atas ituloh, pembatas kawa bisa menopang banyaknya pengunjung. Bagi saya itu menakutkan, karena takut longsor. Hanya setengah jam saya disitu, sebenernya teman-teman pengen berlama-lama di atas sana, tapi karena saya yang penakut ini, akhirnya kita pun turun. Lagi-lagi kita harus antri ketika menuruni anak tangga. Waktu itu di depan saya adalah turis asing yang saya nggak tahu mereka ngomong apa. Maklum kita beda spesies.

Ini Jepretannya di Gn. Bromo (Bukti Sejarah) :-D :

Bersama si dia. :-)

Dari Kiri: Angga, Ichsan, Baim, Saya, dan Addin



Mau naik ke ke Kawa Bromo
Saat menaiki tangga menuju Kawa

Inilah kawanyanya, setelah menaiki tangga dengan
 perjuangan ekstra. :-)

Inilah Kawanya. Sangat menakutkan. :-)
Menuruni tangga kawa Bromo.
Mending turun dari pada naik. Iya apa iya
?


Saat di atas puncak Kawa, Background Gn. Bromo

Inilah panjang tangganya. Kurang tahu berapa
banyak tangganya. Ratusan anak tangga yang saya rasakan. 
Bener-benar melelahkan untuk orang sebesar saya. :-D

Sampailah kami di bawah dan kami sudah di tunggu oleh teman kita yang lain, Fajar dan Bang baim menunggu di bawah. Mereka berdua nggak ke atas kawah karena kecapekan dan juga karena mereka sudah pernah ke atas kawa sana. Mereka berdua menunggu di bawah dan tidur dengan karpet kecil yang mereka bawah. Rasa Lapar mengalahkan ke indahan panoramo Bumi Bromo, berlama-lama disini tak mengenal waktu. Sekitar pukul 10 pagi kita bergegas balik dan pergi meninggalkan kawa Bromo. Karcis pun kami bayar, seharga 5 ribu rupiah yang bagi saya itu mahal. Tapi mau gimana lagi, Ya sudahlah. haha. beriringan motor kami meninggalkan kenangan yang mungkin menjadi bahan cerita kami nanti, itulah Bumi Bromo.

Rasa lapar mulai terasa, kita pun mencari tempat makan yang murah muriah. dapatlah kita sebuag depot makan di dekan Gapura pintu masuk wisata Gn. Bromo. Tampak lemas, letih, dan lesu di raut wajah teman. Pesanlah kami dengan menu makanan yang berbeda-beda, ada yang pesan Rawon, Nasi Pecel, Nasi Lalap Ayam, Mie Goreng, Nasi Kare, dan Pecel lele. Hehehe. Saya masih ingat betul, karena saya yang memesankan itu semua. Di tengah menunggunya Asumpan gizi itu, kita akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan wisata lagi. Yang awalnya pergi ke dua tempat, yaitu di Gn. Bromo dan Air Terjun Madakaripura menjadi Gn. Bromo saja. Alasan pertama karena teman - teman sudah merasakan kelelahan, terutama teman cewek. Mereka menolak mentah - mentah karena kecapekan. Kita kaum Adam memaklumi itu semua, jujur saya kecewa berat. Tapi mau gimana lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang ke Surabaya, tak lupa kami di perjalanan meminta untuk singgah di Masjid untuk sekedar membersihkan badan kita. Tapi temannya Addin malah melarang, temannya menyuruh kita untuk langsung ke rumahnya saja buat bersih - bersih dan beristirahat. Kita pun mengiyakan dan lekas pergi ke rumahnya yang ada di Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan (Perbatasan Probolinggo dan Pasuruan).



Capek dan Ngantuk menemani perrjalanan pulang kami, di tambah iringan rintik-rintik hujan yang penuh dengan romanstisme. hehe. Kanan kiri terlihat pemandangan yang sangat-sangat indah ciptaan sang Maha Kuasa. Jalan licin juga menemani kita menikmati kelak - keloknya menuruni jalan. Yang tadinya ngantuk, menjadi benar-benar mata ini mengangah, berkonsentrasi dengan medan jalan. Bener - benar mengesankan, sesekali kita harus berhenti karena harus mengalah dengan mobil angkutan desa. Kalau nggak gitu kita yang akan terhantam kendaraan besar itu. Hamparan pertanian saya saksikan sesekali, melihat kanan kiri banyak sekali tanaman sayur mayur yang begitu segar di pandang. Rasa-rasanya pengen tak bawah pulang ke kota Gresik, biar di masak Ibu saya. Maklum, saya pecinta sayur mayur apapun, kecuali sayur mayur yang baru tahu (Tak asing di mata saya). 

Siang, sekitar pukul 12.30 WIB tibalah kami di rumah temannya Addin. Kita di sambut ramah dengan orang tua temannya Addin. Maaf ya pembaca sebelumnya, jujur saya lupa namanya temennya Addin. Makany saya bilang "Temennya Addin" saja. hehe. Kami pun di persilahkan istirahat, dan mandi. Bergantiahan mandi, Cewek-cewk di persilahkan untuk mandi duluan dan cowok belakangan. Ladies First bro.. Iya apa iya?. Saya menjadi nomor urut ke dua setelah temannya Addin mandi. Benar - benar rasanya air pegunungan itu masih terasa, walaupun sudah jauh dari pegunungan, segar sekali airnya. Saya lama-lamakan mandinya, menikmati segarnya mandi. Hahaha. Rasanya di bilang dingin banget ya nggak, di bilang biasa ya nggak, pokoknya pas bangetlah takaran rasa dinginnya. Setelah selesai keberuntugan itu singgah, keluar kamar mandi ehh.. sudah di sambut hidangan Makan siang yang di sediakan tuan rumah. Benar - benar beruntung sekali saya ini. Rawon hidangan utamanya. hahaha. bikin ngiler pokoknya. Setelah memakai pakaian ganti, merapatlah saya bersama teman - teman buat makan siang. 

Musuh saya datang setelah makan itu, di tambah hawa yang dingin - dingin gimana gitu. Siapa dia? Kalian pasti tahu, ini musuh kalian juga. "Ngantuk" Jawabannya. hehehe. Dan yang kalah adalah teman - teman saya, sehabis makan langsung tidur. Saya seh nggak tidur, saya mengalahkan musuh itu dengan jalan - jalan di halaman rumah temanya Addin. Setelah jalan - jalan nganter si dia buat makan keluar. Dia nggak mau makan karena hidangannya sudah habis, dari sinilah kalau makan sama cowok itu malu-malu in. Mending makan sama cewek kan kalau mertamu ke rumah orang. hehe. Saya antar dia ke jalan besar (Jalanan Pantura), dia pilihlah sebuah warung sederhana. Warung Rawon Nguling, Rawon yang khas di daerah Nguling sini. Tapi saya nggak makan, hanya dia yang makan. Masak makan lagi saya, kan sudah makan tadi di rumah tuan rumah. Saya hanya minum secangkir kopi, biar fress ini mata. Setelah selesai kembalilah saya ke rumah temannya Addin tadi,  ehh... nyampek-nyempek teman-teman sudah berkemas buat balik. Dengan gerak cepat saya mengambil barang bawahan saya. Pamitlah kita ke tuan rumah. Mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada kawan baru yang sudah rela menyediakan tempat Istirahat buat kita. Sekitar pukul 3 sore kita beranjak dari rumah temannya Addin.

Itu adalah Hadiah Ulang tahun terindah buat saya, bisa berada di Bumi Bromo, di Kabupaten Probolinggo. Di samping itu bisa di temani kebersamaan teman - teman Kuliah dan juga di temani si dia. hehehe. Thanks buat Mereka yang benar - benar bisa membahagiakan saya. SIPIL SUPER SOLID.


MH. Chifdzuddin
28 Januari 2014 Pukul 18.05 WIB
Kost Perum IKIP A 165 & Kantin FTSP UPN "Veteran" Jawa Timur.




Sabtu, 18 Januari 2014

Cerita Indah di Kota Malang: Pantai Bajol Mati, Unggapan dan Goa Cina.

,
        Waktu itu, beberapa minggu saya sebelum UAS (Ujian Akhir Semester). Saya dan teman Dekat sewaktu SMA. Mereka bernama Billy (Muhammad Billy Rahman dan Vivi (Qurrotus Shofiah). Sebelumnya, saya perkenalkan dulu teman saya yang dua ini.  Muhammad Billy Rahman, dia seorang Mahasiswa juga seperti saya. Dia kuliah di PPNS (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya) Billy mengambil Jurusan Teknik Otomasi Kapal, ganteng loh, kayak Vidi Aldiano. Katanya sih.. Dan teman saya yang kedua, dia kuliah di ITS (Intitute Teknologi Sepuluh November), Surabaya dengan jurusan yang sama seperti saya, yaitu Teknik Sipil. (Hidup Sipil: Ngomong sama tembok). Kami bertiga merencanakan untuk jalan - jalan ke Malang.  3 Minggu setelah pemberangkatan kita rencakan itu. Setelah kami bertiga Deal, kita langsung menghubungi teman - teman kita yang di Malang. Dan mereka meng-iya-kan ajakan kami. Katanya dengan senang hati. Awalnya kita nggak bertiga ingin berangkat, kami mengajak teman saya yang Kuliah di UNUSA (Dulunya Stikes Yarsis, sekarang ganti UNUSA. Padahal bagusan Yarsis namanya. hehe peace) Jurusan Keparawatan. Namanya Irma Nur Laili, panggilanya Irma dan teman saya yang kedua kuliah di UNESA, Anak Sastra Inggris Loe, namanya Faridah. Mereka berdua nggak bisa gabung di karenakan tugas kampus yang menderahnya. Katanya gitu seh.. Makanya kita berangkat cuma bertiga saja.

Cerita Indah itu di Kota Malang: Potret ke 6 teman itu.
      Jum'at malam waktu yang kita pilih buat berangkat dari Surabaya. Billy teman saya, menjemput saya di Markas saya yang berada di Perum IKIP A165. Sebelum berangkat Billy saya ajak mengisi amunisi dulu, apalagi kalau bukan yang namanya ngopi. Seperti biasanya di Angkringan depan kampus saya. Sekitar pukul 8 kita berangkat ke Sidoarjo. Kita berdua sudah di tunggu Vivi disana. Dia di rumah teman kuliahnya di daerah Porong, Sidoarjo. Setelah sampai di Porong, kami  buat jengkel menunggu cukup lama. Sampai - sampai saya tertidur di pangkuan kursi panjang di Warung yang entah milik siapa. Tepatnya kami berdua menunggu di depan sebuah bangunan Milik TNI Angkatan darat. Lupa saya namanya. hehe. Sekitar 1 sampai 1 setengah jam kita menunggu si anak kecil itu. Datanglah dia dengan muka yang ceria, (senyum-senyum nggak jelas) setelah melihat Saya dan Billy yang menunggunya sekian lama. Tanpa basa - basi kita langsung bergegas menaiki sepeda motor dan langsung jalan. Vivi naik di pangkuan si Billy.  

        Perjalanan kami kurang lebih dua jam lebih. Setelah sampai di Kota Apel ini kami bertiga berhenti di Fly Over Arjosari. Disitu kamu menunggu jemputan teman kami, Muhammad Hisyam Fairuz namanya. Dia kuliah di Universitas Brawijaya, mengambil Jurusan Teknik Industri. Tak lama kami menunggunya, datanglah di hadapan kami. Kami pun bersalaman secara mesra dan membabi buta, setelah lumayan lama kita nggak bertemu (Alay). Hahaha. Di ajaklah kami ke kontrakannya yang tak jauh dari Fly Over tersebut. Cuma mengambil barang doang ke kontrakan. Setelah itu kami menuju ke kost-kos.an-nya Hilyatul Afkar. Dia sama dengan Hisyam, Kuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Teknik Industri Juga. Kita sudah di tunggu sama Hilya di persinggahannya. Rencananya sih kita berlima bertolak Ke Alun-alun Batu, buat menikmati Ketan susu yang sangat terkenal itu. Bondan Winarno di kabarkan pernah singgah di sana menikmati nikmatnya ketan susu. Sekitar jam setengah 12 kita sampai di Alun-alun Batu. Ternyata rame juga yang nongkrong di Ketan susu tersebut, Yang pasti anak-anak mudah yang menyesaki Warunng Ketan Susu. Setelah saya merasakan, enak juga rasanya. Mungkin yang nggak enak bagi saya adalah Harganya. Ya kalau menurut saya sih di atas ambang Uang saya. Perporsinya 6 ribu sampai 10 ribu. Maklum Mahasiswa. hehe. Sampailah di pukul 02.00 Pagi. kami bergegas pulang ke tempat istirahat, saya dan billy tidur di kontakannya Hisyam, sedangkan vivi tidur di kosannya Hilya. Banyak hal yang kami omongkan di tempat ketan susu tadi, ngobrol sampai berjam-jam. Dari obrolan itu, saya dan teman - teman sepakat ke Pantai Selatan, Malang (Walaupun saya sudah pernah kesitu). 

           Pagi sekitar pukul 8 saya, Billy, dan Hisyam bertolak ke Kostnya Hilyah, lagi - lagi kami di buat menunggu setelah sampai disana. Maklum cewek. Ya nggak?. Waktu sarapan pun tiba, Selaku tuan rumah, hisyam dan Hilya mengajak kami ke tempat langganannya makan (Nasi Pecel). Nasinya Pecelnya se Lumayan, Tapi enak. Hahaha. Setelah selesai, kita bergegas ke Kos annya Lailatul Muniroh. Menjemputnya dan mengajak Jalan-jalan, Maklum, katanya dia jarang jalan-jalan kalau di malang. Alasannya nggak ada Motor, Tapi itu memang alasan yang benar. haha. Sebelumnya saya perkenalkan, Namanya Lailatul Muniroh, dia juga kuliah di Universitas Brawijaya, sama dengan Hilya dan Hisyam. Bedanya Muni (Nama Panggilannya) ini mengambil Jurusan Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universtas Brawijaya. Tak lama kemudian dapat kabar juga dari 1 teman kita yang bisa bergabung buat jalan-jalan. katanya dia akan menyusul kita. Namanya Muhammad Yasin, Mantannya si Muni tadi itu. hehe. Dia juga kuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Perhutanan (Anak Rimba). Haha.

       Jarum Jam pukul 10.00 tepat, kami akhirnya berangkat dari Kost - kost anya Lailatul Muniroh. Perjalanan yang cukup panjang dan cukup melelahkan. 2 setengah Jam lebih kita di perjalanlan. Dengan jalan yang berkelok-kelok menaiki bukit, menuruni bukit. Sungguh Indah ciptaan Allah SWT. Itu yang terbersit di pikiran saya. 2 jam lebih itu berlalu, sampailah kami di Pantai Unggapan (Tempat pertama kami singgah). Muka Capek pun berubah menjadi Muka yang sumringah (Muka Senyum). Di pantai Unggapan kita cuman numbang ke Toilet, kenapa? karena itu bukan tujuan kami. Tujuan utama kami adalah ke pantai Goa Cina. Tapi pantai Unggapan benar-benar indah, belum banyak orang yang ke situ. Pantainya yang berwarna hijau dengan pasir putih yang indah. Kami sempat mengabadikan Moment di pantai Unggapan, walaupun hanya di depannya saja. hehe. Tak lama kemudian datanglah teman kami Muhammad Yasin bersama teman MABAnya (Mahasiswa Baru), dengan membawa kamera DSLR Canon. hehe. Ini yang kita tunggu-tunggu (Kameranya). 

Depan: Potret Pantai Unggapan, Malang

       Setelah asyik berfoto-foto di Pantai Unggapan, kamu mencari background lagi. Di Jembatan yang bagus desainya dan dari situ bisa melihat indahnya Pantai Unggapan yang airnya berwarna hijau. Nama jembatannya adalah Jembatan Pantai Bajol Mati. Kenapa di namakan demikian, Mungkin karena ada pantai yang namanya Pantai Bajol Mati. Pantai ini di sebelah pantai Unggapan. kurang lebih 300 meteran dari pantai Unggapan. Pantai ini beda tipislah keindahnya sama Pantai Unggapan. Dan Jembatan Bajol mati menjadi Background berfoto kami selanjutnya. Setelah jeprat - jepret sana - sani. Hasilnya Amazing bin Mantap pokoknya. hehe.
Jembatan Pantai Bajol Mati, di belakangnya adalah Pantai Unggapan
Jembatan Pantai Bajol Mati: Dari kiri: Billy, Vivi, Hilya, Saya dan yang duduk: Eli (Muni)
       Tibalah saatnya kita meluncur ke tujuan utama kami, di Pantai Goa Cina. Untuk memasuki Pantai ini sangat bergelombang jalannya. Banyak batuan besar di kanan kiri kita. Kita menaiki sepeda di kocak - kocak sampai rasa mulai di perut hadir. Maklum Pantai ini masih sedikit yang menjamanya. Sulit buat mobil buat masuk dengan medan jalan segitu bergelombang. Kurang lebih jaraknya dari jalan besar ke pantainya 1 Km. Tibalah kami di parkiran wisata. Cukup luas juga parkirannya dan cukup rame juga sepeda motor yang di parkiran. Cukup dengan membayar 6 ribu rupiah kita bisa menikmati Ciptaan Allah SWT yang begitu indah ini. Hanya satu kata yang terucap di bibir dan secara berulang-ulang saya ucapkan "Subhanallah". Pertama kali saya memijakan di pantai Goa Cina. ketika masuk di jumpahi pula Warung-warung kecil yang berjejeran, rumah warga, dan Musholah kecil yang berukuran 6 x 5 meter. Ada juga pedagang Bakso yang menjajakan jualan. Tapi sayangnya saya nggak mencoba bakso itu, maklum teman - teman langsung menuju tempat yang past buat mengabadikan kenangan kita ini. Kami berjalan ke arah selatan, di tengah perjalanan saya melihat sebuah Goa. Dan ini awal mulanya kenapa nama pantai ini di namai Pantai Goa Cina. Konon katanya di Goa itu telah bertapa seorang berkulit putih dan bermata sipit yang berasal dari cina. Dan ketika bertapa sekian lama, orang cina tersebut menghilang entah kemana. Nggak ada yang tahu hilangnya kemana. Dari situ awal mulanya pantai ini di namakan Pantai Goa Cina. Setelah puas melihat Goa, saya langsung bergegas menghampiri teman-teman saya. Sekali lagi saya berucap Subhanallah. "Inikah ciptaan mu Illahi Robbi". Tanpa basa-basi saya langsung menghampiri teman-teman yang asyik berpose. Ini hasil jepretan jepretannya.

Pantai Goa Cina : Jepretan: Vivi dan yang berpose, dari kiri: Saya, Hisyam, Billy, dan Hilya.
Potret: Dari kiri bersama Saya, Hisyam, Hilya, dan billy.
Potret: Saya bersama Billy Rahman








Setelah capek - capek sesi pemotretan pertama, Ngobrolin 
masa-masa dulu waktu SMA dan celotehan-celotehan 
lelucon. Pokoknya nge-buli si MAT (Julukan Yasin)

Sebelum pulang, ini jepretan sesi yang ke dua. hehehe
                    Dari kiri: Yasin, Vivi, Hilya, Saya, dan Billy.
         Ya cukuplah Potret-potretannya, cukup mengesankan waktu itu bersama teman-teman. Sekitar pukul 5 Sore kami bergegas menuju Parkiran tempat wisata. Kita langsung nge-gas sepeda motor kita masing-masing. Langsung Cus ke Malang. Di perjalanan kita berhenti untuk mengisih bahan bakar motor kita. Kita saja minum masak motor kita nggak. Iya apa iya. hehe. Dan juga kami beristirahat sejenak di Pom tersebut, sembari melakukan ibadah Sholat Magrib dan mencicipi hangatnya Cilok (Pentol kalau di Surabaya). Perjalanan kita lanjutkan, di selah - selah perjalanan teman-teman kebanyakan mengantuk saat mengandarai motor, termasuk saya sendiri. hehe. Apa ini akibat Cilok tadi ya?. haha. Ya nggaklah, Tahu sendiri hawa di Malang itu kayak apa, dingin-dingin gimana gitu, membuat ngantuk. Di samping itu kita kecapekan, Makanya jadi ngantuk ketika di jalan. Setelah beberapa jam di jalan, tibalah kami di Kota Malang. Sekitar pukul Setengah 9 kami tiba di kost-an Eli (Muni). Setelah berpamitan sama Eli, kita bergegas ke kost-an Hilya. Sampailah kita di kost-an-nya Hilya, mereka berdua (Hilya dan Vivi) langsung masuk ke Kost-an. Saya, Billy, dan Yasin menuju ke kontrakannya Yasin, sedangkan Hisyam langsung ke kampus. Katanya sih ada rapat dadakan di Himpunannya. 

        Tak lama kemudian kira-kira pukul 10.00 WIB, kami melakukan perjalanan lagi. Kali ini Wisata Kuliner. Ini permintaan saya langsung, maklum pecinta kuliner. Teman-teman tak ajak ke Ceker Dinamit, tempatnya di dekat Kampus Universitas Malang. Kenapa saya pilih Ceker Dinamit?, Karena saya penggemar berat makanan yang berbahan utama ceker. Ini kali kedua saya menyatroni Ceker dinamit. Rasanya memukau, pedasnya membunuh lidah saya hingga hanya rasa pedas yang di rasa. Duluny saya nggak suka namanya makanan pedas. Awalnya gara-gara ceker Lapindo yang ada di Sidoarjo. Dari situ saya ketagihan makanan pedas. Cukup puas teman-teman ketika tak ajak kesana. Oiyah lupa, saya ke Ceker Dinamit bersama Hisyam, Billy, Hilya, dan Vivi. Yasin dan Eli (Muni) nggak bisa ikut. Yang Yasin ada janji sama teman kampusnya buat Nobar Team kesayangannya "Arsenal" di Alun-alun Batu, Sedangkan yang Eli (Muni) nggak bisa ikut karena kecapekan, dan tengah malam harus ngerjakan tugas kuliahnya. Ya cukup bisa di maklumilah kedua teman kita yang nggak bisa ikut itu. Jujur teman yang bisa ikut itu, merasa keberatan buat berangkat melancong lagi. Khususnya yang cewek, si Hilya dan Vivi. Tahu kenapa?, Karena kecapekan. Tapi Saya, Hisyam, dan Billy memaksanya buat ikut. Kata kita bertiga, kalau nggak ada cewek itu nggak enak. hehe. Yang paling doyan makan cekernya itu si Vivi, katanya si enak. Gimana nggak lahap makannya, lawong dia makannya nggak pedas. Kalau di istilahkan itu Ceker yang level Jongkok. Ada 5 level di ceker lapindo, tapi saya mintak yang level 3 saja. Itu pun sangat menguras keringat saya akibat rasa pedasnya. Tapi semua itu enak lho, pulang ngomong nggak bakal bali, ehh besok-besoknya datang lagi. Tobat sambel itu namanya. hehe.  

        Setelah 2 jam kami asyik bercengkrama sama ceker, kami pun begegas pulang. Mampir ke kost annya Hilya buat mengantar Hilya dan Vivi. Setelah itu kamu bertiga balik ke kontrakannya Hisyam. Nyampek kontrakan saya langsung tidur di ruang tamu, sudah nggak tahu apa-apa setelah itu. Maklum kecapekan berat saya. 

        Pukul 7 saya terbangun, dan lekas ke kamar mandi buat mandi. Bangun-bangun badan rasanya nggak enak semua, dari mandi-mandi di laut kemarinya nyampek kontrakan nggak mandi, malah langsung tidur saya. hehe. Sehabis mandi saya bercengkrama sama penghuni kost salaman sana-sini (Sama teman-temanya Hisyam). Hisyam mengajak saya dan billy Museum Brawijaya. Setelah bayar parkir 2 ribu per sepeda motor. Ehh malah nggak jadi masuk, kami betigah lebih memilih ke pasar Minggunya. Cukup rame pasar minggunya. Ketika kami kesitu, ehh.. malah para sebagian penjual mengemasih jualannya. Masak takut sama kita-kita ini, di kira kita mau menjarah barang jualannya mungkin. hehe.. Alasannya kenapa berkemas para penjual?, karena sudah siang saya kesitunya. hahaha, makanya di kemas jualannya. Tahu nggak apa yang saya dapat dari Pasar Minggu itu? Ya jelas nggak tahulah kalian, kan saya nggak pernah cerita-cerita. hehe. Saya membeli 2 Pigora yang cukup bagus menurut saya. Pigora gaya minimalis yang di tawarkan ke saya. Makanya saya tertarik membelinya. 1 Pigora berukuran besar dengan harga 55 ribu, dan 1 pigora berukuran kecil dengan harga 25 ribu. 

        Setelah puas, kita bertiga langsung bergegas pulang dan balik ke kontrakan. Setelah sampai, lagi - lagi saya langsung tertidur. Kali ini tertidur di kamar teman saya. hehe. Pukul 5 an saya bangun. Bergegas ke kamar mandi dan mandi. Setelah itu siap-siap buat balik ke Surabaya. Sebelum pulang lagi-lagi kita Kuliner lagi. Kali ini nasi Keprek yang kami datangi, katanya temenku di Hilya dan Hisyam, nasi ini sangat terkenal di kalangan Mahasiswa di Universitas Brawijaya dan Malang. Memang sangat-sangat nikmay rasanya di lidah nasi keprek ini. Nggak salah teman saya mengajak orang baru yang pecinta Kuliner seperti saya ini. hehe. Setelah selesai makan, rupahnya saya kaget dengan harga nasih yang saya makan tadi. Tapi ya sudahlah, sebanding dengan cita rasa yang di tawarkan. Jam 8 kurang kami berpamitan dengan teman-teman yang di malang, Hisyam, Hilya, Yasin (Yang ikut Makan). kami pulang jam 8 tepat pulang dari Kedai Nasi keprek. Jam 10.12 WIB Saya, Billy dan Vivi tiba di kost saya. Kok tahu kalau jam 10.12 WIB? Ya tahulah , kan waktu itu saya lihat jam. hehe.. Dan mereka berdua berpamitan setelah mengasihkan pigora yang saya beli di Pasar Minggu. Cukup melelakan sekali perjalanan itu. Ini pengalaman saya dengan teman teman saya. Dan akhirnya saya tertidur di kamar kost an. Lelap dan pulas. Thank sudah membaca, pemgalaman panjang saya ini. hehe..

       Berkunjunglah ke Pantai Selatan Malang, Mata kalian akan di manjakan Keindahan ciptaan Allah SWT. Monggo... Dolen iku enak. hahaha. Nggak akan rugi pokoknya. 



"Tulisan ini saya kirim ke Media Cetak Harian Surya lewat emailnya Harian.surya@gmail.com. semoga muncul di koran harian surya. Amin"





MH.Chifdzuddin
18 Januari 2014 Pukul 21.24 WIB
Kamar Kost Perum IKIP A 165, Gunung Anyar, Surabaya.  




  

You might also like

 

Kubangan Kehidupan Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...